Translate

Wednesday, December 10, 2014

Books "WOOL"

Books “WOOL”
Judul Asli : WOOL OMNIBUS
[ book 1 of SILO TRILOGY Series ]
Copyright © 2013 by Hugh Howey
Penerbit Mizan Fantasi
Alih Bahasa : Dina Begum
Editor : Nuraini Mastura
Prooferader : Herlinawati Sitorus
Layout  : Abdul Wahab
Desain sampul : Vinsen
Cetakan I : September 2014 ; 734 hlm ; ISBN 978-602-1606-94-0
Rate : 4.5 of 5

Selama bertahun-tahun mereka hidup dalam peraturan dan hukum yang berlaku dan menerima kebijaksanaan atas pembagian wilayah-wilayah karena setiap bagian memegang peranan penting untuk kelangsungan hidup mereka semua. Di bawah pimpinan walikota yang didampingi oleh sheriff selaku penegak hukum, baik penghuni bagian atas maupun bawah semuanya mematuhi dan menerima ajaran yang telah didengungkan secara turun temurun. Dengan perkecualian jika ada yang melanggar peraturan, maka ia akan dihukum untuk melakukan ‘pembersihan’ yang berarti keluar dari silo untuk membersihkan kamera penghubung dan melanjutkan perjalanan di dunia luar. Semuanya berjalan tanpa gangguan, hingga suatu hari terjadi hal yang sama sekali berbeda.



Sheriff Holston yang telah memegang jabatan selama bertahun-tahun, mendadak minta ijin kepada Walikota Jahns untuk ‘keluar’ – sesuatu yang aneh karena tidak pernah ada orang yang meminta dengan sukarela. Semua pihak menduga ini akibat stress yang diderita oleh sang sheriff semenjak ‘kepergian’ sang istri 3 tahun sebelumnya, ketika ia dikenai hukuman pembersihan. Akibatnya walikota harus segera mencari pengganti sheriff, dan berkat usulan deputi Marnes, mereka turun ke bawah tanah untuk menemui salah satu kandidat yang dianggap sesuai. Kandidat ini bertugas di bagian mekanik di lantai dasar silo dan selama bertahun-tahun tidak pernah cuti atau minta ijin bertemu dengan satu-satunya anggota keluarga. Ia adalah Juliette ‘Jules’ Nichols – wanita yang cukup menarik, cerdas dan ulet, anehnya ia memilih untuk tenggelam dalam pekerjaannya di bagian mekanik yang terletak di silo bagian bawah.

Pencalonan Jules disetujui oleh Walikota Jahns terutama setelah ia bertemu muka dengan wanita ini, walau ia harus berhadapan dengan kepala TI Bernard Holland yang lebih suka memilih Peter Billings – kandidat lainnya. Sedangkan Jules sebenarnya tidak tertarik dengan posisi yang ditawarkan, tetapi berkat kecerdikan negosiasi Walikota Jahns, akhirnya Jules bersedia menerima jabatan tersebut. Sayangnya tugas pertama yang harus diterima oleh Jules adalah kasus kematian sang walikota, yang tewas secara mendadak dalam perjalanannya kembali ke silo bagian atas. Semua pihak menduga kematian tersebut karena faktor usia dan kelelahan akibat perjalanan turun-naik silo yang cukup panjang. Hanya deputi Marnes yang yakin bahwa ini adalh kasus pembunuhan. Dan sekali lagi sebelum Jules sempat melakukan penyelidikan menyeluruh, deputi Marnes ditemukan tewas bunuh diri ...

Benarkah semua tragedi yang terjadi dalam waktu singkat merupakan kematian secara alami ? Apakah pengangkatan Jules sebagai sheriff berkaitan dengan alasan di balik peristiwa ini ? Apalagi setelah Jules menemukan adanya kejanggalan di balik alasan mengapa sheriff Holston memutuskan untuk ‘keluar’ lebih dari sekedar kedukaan sepeninggalan istrinya. Namun bisakah Jules menemukan jawaban di balik misteri yang menyelubungi silo, karena banyak pihak yang ternyata memiliki rencana dan agenda tersendiri yang tidak mengikut-sertakan Jules di dalamnya. Yang berarti bisa saja dalam waktu singkat, Jules menjadi sasaran target berikutnya ... Dan terbukti dalam waktu singkat Jules dituduh menyebabkan kematian salah satu temannya, yang kebetulan dimintai tolong untuk memecahkan sandi rahasia. Jules menjadi terhukum dan melakukan pembersihan di luar silo – dunia yang sama sekali tidak diketahui siapa pun juga ...

Salah satu kisah fantasi yang sempat membuatku tertegun. Pertama karena ketebalannya bukunya (700 halaman) plus font yang mungil sehingga mirip semut berbaris, benar-benar menguji tekad untuk menuntaskan hingga akhir. Apalagi pada permulaan, kisah ini berjalan cukup datar alias no action atau adegan yang mampu menimbulkan rasa greget. Tetapi kemudian konflik mulai bermunculan satu demi satu dan aneka misteri ‘bergentayangan’ di benakku (I love mystery) menantikan jawaban yang pada akhirnya membuatku menyelesaikan buku setebal ini (dengan font mungil) hanya dalam semalam. Bayangan kehidupan suatu masyarakat yang tinggal dalam ‘lubang bawah tanah’ dengan penghubung berupa tangga besi melingkar menembus bumi – itu saja sudah membuatku cukup merinding, apalagi penulis mampu menuturkan suasana dan detil yang cukup mencekam serta konflik yang tak kalah dengan Hunger Games.

Setelah kenyang dan bosan dibombardir oleh kisah distopia (yang notabene full love triangle #hhhhh), karya Hugh Howey ini bagaikan ‘udara segar’ yang mengembalikan kesenanganku akan bacaan fantasi. Walau tetap ada bumbu romansa di dalamnya, untungnya porsi tersebut tidak terlalu banyak hahaha #syukurlah, sedikit banyak mengingatkan diriku akan versi awal serial Tunnels karya Roderick Gordon dan Brian Williams. Dan masalah ketebalan buku, ternyata edisi terjemahan kali ini merupakan gabungan dari beberapa kisah (semacam omnibus klo versi aslinya begitu) pantas saja tebal \(^_^)/ - but never mind, ‘coz I also love ‘buku-buku seksi’ (yang tebal dan berisi hahaha). Nah, sekarang setelah selesai buku pertama dari Silo Trilogy, kapan nih kelanjutannya bakal muncul, jangan terlalu lama ya, nanti sudah pada pikun mengingat versi awalnya. Mari menunggu bersama-sama .... 6(*0*)9   
“Ketika tempat-tempat ini dibangun, gagasannya adalah kita semua terlibat dalam hal ini. Bersama-sama tapi terpisah, tidak saling mengetahui, jadi kita tidak menulari yang lain jika salah seorang dari kita jatuh sakit. Tapi, aku tidak ingin bermain untuk tim itu. Aku tidak sepaham dengan gerakan mereka. Aku menolak. Jadi kita melawan mereka. Dan bukan orang-orang di dalam silo, bukan orang yang bekerja dari hari ke hari yang tidak tahu menahu, melainkan orang-orang di puncak yang mengetahuinya. Silo delapan belas akan berbeda. Penuh dengan pengetahuan, dengan tujuan. Pikirkanlah. Mengapa kita tidak memberdayakan orang-orang alih-alih memanipulasi mereka ? biarkan mereka tahu kita melawan siapa. Dan jadikan itu pendorong bagi timbulnya kehendak bersama.” 
[ ~ WOOL by Hugh Howey | p. 701 -702 ]
[ more about the author & related works, just check at here : Hugh Howey | on Goodreads | on Wikipedia | at Twitter ]

~ This Post are include in 2014 Reading Challenge ~
115th Book in Finding New Author Challenge
271th Book in TBRR Pile

Best Regards,

Hobby Buku

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pesan dan komentar (no spam please), harap sabar jika tidak langsung muncul karena kolom ini menggunakan moderasi admin.
Thanks for visiting, your comment really appreciated \(^0^)/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...