Translate

Monday, March 21, 2016

[ 2016 | Review #20 ] : "THE DEVIL'S GRAVEYARD"

Title : “THE DEVIL’S GRAVEYARD”
[ book 3 of THE BOURBON KID Series ]
Text copyright © 2014 by Anonymous
Cover illustration copyright © 2014 by Owen Richardson
Cover design by Jessica Handelman
Interior design by Hillary Zarycky
Printed in the United States of America
Published by Aladdin (an imprint of Simon & Schuster Children’s Publishing Division)
First Aladdin paperback edition November 2015
paperback ; 472 p | ISBN 978-1-4814-3001-2
Price : IDR 75 (Bargain Sale)
Rate : 5 of 5

Buku ini kutemukan dalam timbunan buku-buku obral akhir tahun di salah satu toko buku. Sayangnya buku ke-2 tidak kutemukan, alhasil sembari menunggu, kubaca buku ke-3 seri Bourbon Kid yang jujur nyaris kulupakan karena buku ke-1 tuntas kubaca entah beberapa tahun silam. Membaca buku edisi bahasa Inggris ini ternyata jauh lebih menyenangkan, sekaligus menggelitik karena penuh ‘makian’ dan kata-kata ‘mutiara’ sepanjang adegan full adrenalin tanpa jeda. Jangan terburu berpikiran negatif, karena dijamin membaca buku ini bakal ketawa habis termasuk adegan-adegan perburuan zombies melawan vampir.

Buku pertama tuntas saat Bourbon Kid berhasil meloloskan diri dari kejaran Miles Jensen yang diutus oleh pemerintah, namun benda yang menjadi perebutan ‘Mata Rembulan’ (Eye of the Moon) jatuh ke tangan pihak lain. Sayangnya diriku tidak dapat mengomentari bagaimana akhir perburuan antara manusia dan vampir, karena ini buku ke-3 yang mengambil lokasi jauh dari perburuan ‘Mata Rembulan’. Bourbon Kid yang mengalami masa lalu mengerikan, harus membunuh ibu kandungnya pada usia 16 tahun karena berubah menjadi vampir dan berusaha ‘menggigitnya’ – menghabiskan hidupnya untuk berburu dan membasmi makhluk-makhluk supranatural yang berkeliaran di Bumi.

Kini, tepat 10 tahun kemudian pada hari pertama perayaan Hallowen, ia berada di padang gurun yang terletak di belahan Amerika Utara, tempat yang dikenal sebagai ‘The Devil’s Graveyard’ – dimana sesuai perhitungan peredaran bulan, akan muncul ‘makhluk-makhluk mengerikan’ dari Neraka. Tiada penghuni di gurun tersebut, kecuali Hotel Pasadena – satu-satunya bangunan mewah nan megah dimana tempat perjudian terbesar serta kompetisi menyanyi  dengan tema ‘Back From The Dead’ akan diselenggarakan. Finalis kompetisi akan berlomba memperebutkan hadiah yang sangat besar serta kontrak bernilai jutaan, dengan meniru bintang-bintang tenar yang sudah tiada.

Dari tiruan Elvis Presley, Michael Jackson, Frank Sinatra hingga Judy Garland, semuanya bersaing dengan ketat memperebut ‘suara’ terbanyak hasil voting penonton. Tiada yang mengetahui bahwa kontes ini telah direkayasa oleh penyelenggara, bahkan finalis yang lolos telah dipersiapkan terlebih dahulu. Sayangnya bukan pihak penyelenggara yang memiliki agenda tersendiri, karena ada finalis yang bertekad memenangkan kontes itu dengan menghalalkan segala cara, termasuk menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan para saingannya. Siapa mengira bahwa event ini diatur oleh kaki-tangan Iblis yang terikat kontrak untuk menyerahkan ‘korban’ sebagai pembayaran bunga pinjaman terkabulnya ‘wishlist’ tertentu ...

Di antara konflik tersebut, muncul Sanchez Garcia – masih ingat ? Bartender dari Bar Tapioka yang nyaris tewas dalam pertarungan sengit (baca : The Book With No Name), bahkan ketika ia bertemu dengan Elvis – pembunuh bayaran yang juga berbakat menyanyi (sesuai dengan penyamarannya sebagai peniru Elvis Presley) dan menjadi sahabatnya sekaligus penyelamat untuk kesekian kalinya saat vampir berusaha menyerang Sanchez. Karakter ini sangat cocok sebagai tokoh komedi yang selalu muncul di saat yang tidak tepat, menjengkelkan tetapi anehnya selalu saja ‘beruntung’ lolos dari cengkeraman malaikat maut hingga Iblis sekali pun.

Sanchez sengaja datang jauh-jauh dari Santa Montega yang dianggap membawa ‘sial’ dan ia memenangkan undian gratis untuk berlibur di Hotel Pasadena. Keberuntungan tersebut secepat kilat berubah menjadi serangkaian malapetaka. Dimulai dari teman seperjalanannya Annabel de Frugyn yang lebih suka dipanggil ‘Mystic Lady’ – peramal yang bersedia memberikan ramalan sesuai bayaran, wanita yang juga salah satu pemenang undian ini berusaha keras untuk ‘mendekatinya’ – sesuatu yang hanya ada dalam mimpi buruk Sanchez. Kemudian, namanya tidak dapat ditemukan dalam database hotel (yang berarti bisa jadi ia tidak benar-benar memenangkan undian gratis). Untunglah Elvis muncul menyelamatkan kemalangannya.

Karena Hotel Pasadena sudah ‘full-booked’ maka Sanchez mendapat kamar salah satu tamu yang terlambat dari jadwal kedatangannya. Girang mendapat kamar eksklusif, masih ditambah dengan adanya kejutan berupa amplop yang ‘ditinggalkan’ di kamar tersebut. Isi amplop itu ternyata penuh dengan uang. Dasar Sanchez yang memang agak ‘kurang beres’ maka alih-alih menyerahkan amplop berisi uang kepada pihak hotel (jelas-jelas uang itu bukan ditujukan pada dirinya), ia menyimpan dan menggunakannya untuk berjudi. Bisa ditebak apa yang terjadi kemudian.

Tamu yang namanya tercantum dalam daftar sebelumnya, akhirnya muncul (walau memang terlambat dari jadwal), dan ia sangat mengerikan sekaligus menakutkan, ditambah dengan fakta kemarahannya bertambah mendapati ada ‘seseorang’ yang mengambil uang jasa miliknya. Invisible Angus – julukan yang diberikan pada sosok pembunuh bayaran yang selalu berhasil dalam setiap tugasnya. Namun kini ia mendapati sang penyewa yang tidak sabaran, telah memanggil jasa pembunuh bayaran lain, ada bisa jadi orang tersebut yang juga ‘mencuri’ uang pembayaran yang seharusnya menjadi miliknya. Malangnya nasib Sanchez, diburu-buru pembunuh bayaran yang murka.

Namun itu sebelumnya ia dan Elvis terperangkap di gurun pasir untuk dibunuh oleh anah buah pemilik hotel dan kasino. Untungnya, atau celaka dua belas, sebelum mereka dibunuh, mendadak gerombolan zombie bangkit dari kubur mereka di gurun. Maka kali ini mereka harus melarikan diri dari kejaran zombie-zombie kelaparan. Sekali lagi untungnya (benar-benar beruntung) saat itu muncul Gabriel Locke (masih ingat, pembunuh bayaran dari New Age Diciple yang pernah bentrok dengan The Kid) yang kebetulan lewat dan hendak menuju Hotel Pasadena. Sebagaimana Bourbon Kid mendapat informasi tentang keanehan Hotel Pasadena, Gabriel juga mendapat kisikan bahwa buruannya akan muncul di sana.

Seriously ... this whole story so damn hillarious. I could not pinned-point which one I like more. Biasanya cerita zombie, vampir dengan bumbu romansa dan komedi bukan jenis bacaan yang kusukai, tapi khusus karya penulis yang satu ini, layak untuk dinikmati, dijamin stress hilang. Kesan spooky hingga nuansa dark-gothic benar-benar terasa, namun di sisi lain, dialog-dialog yang mengalir sangat ‘hidup’ dan penuh dengan aneka kosakata makian dan hinaan hahahaha. Forget about Captain Haddock, this talking-s*** really dirty and occasionally quite vulgar. Makanya jangan perbolehkan anak-anak membaca buku ini ya, bukan saja serem tapi juga bisa menambah vocabulary yang tidak diharapkan muncul di benak mereka.

Membaca buku ini ibarat ‘menonton’ adegan live-action, perang dan pertempuran antara zombie, vampir, pembunuh bayaran, dan tentu saja iblis. Manusia-manusia yang terjepit dalam suasana mengerikan ini bisa dikatakan ‘collateral damage’ bagi kawanan haus darah. Walau demikian, masih tersisa ‘kebaikan’ yang langka, bermunculan di sana-sini. Saksikan saja kontes antara Dorothy (dari Wizard of Oz) yang diwakili Judy Garland, Michael ‘Jacko’ Jackson (yang ternyata semacam malaikat pelindung), Janis Joplin yang menderita sindrom ‘tourette’ (kosa katanya penuh dengan makian), James Brown (pembunuh bayaran yang juga misionaris ‘gila’), Johnny Cash, Freddie Mercury hingga Kurt Cobain.

[ more about this author & related works, just check at here : on Goodreads | on Wikipedia | at Twitter | at Facebook ]

Best Regards,

@HobbyBuku

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pesan dan komentar (no spam please), harap sabar jika tidak langsung muncul karena kolom ini menggunakan moderasi admin.
Thanks for visiting, your comment really appreciated \(^0^)/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...