Books
“ INKHEART “
Judul
Asli : TINTENHERZ ( book 1 – Inkworld Trilogy )
A Stories & Illustration by Cornelia Funke
Copyright © by Cecilia Dressler Verlag GmbH & Co. KG, Hamburg 2003
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Dinyah Latuconsina
Editor : Dini Pandia
Cover by Marcel A.W.
Cetakan ke-1 : Januari 2009 ; 536 hlm
Sinopsis :
Di suatu malam saat hujan turun mengeluarkan bunyi-bunyian,
seorang gadis cilik berusia duabelas tahun terjaga tanpa dapat tertidur,
mencari bacaan guna menghabiskan waktu – dan di sanalah ia melihat sosok asing
berada di luar rumahnya, memandang dengan kediaman yang mengusik hatinya.
Gelisah dan rasa takut mencekam dirinya hingga kaki-kakinya berlari keluar
kamar mencari ayahnya … memberitahukan hal tersebut padanya, dan kisah ini pun
dimulai.

Malam itu si kecil Meggie tak dapat melupakan saat ayahnya – Mortimer ‘Mo’
mengundang masuk sosok asing bernama Staubfinger – Tangan Debu, yang beberapa
saat sebelumnya mengawasi kediaman mereka. Staubfinger datang bagaikan kenalan
lama namun Meggie tak mampu mengenyahkan perasaan bahwa kedatangannya hanya
akan menimbulkan masalah bagi mereka. Lewat pembicaraan yang sengaja
‘di-kuping’ oleh Meggie, kedatangan Staubfinger memberikan peringatan pada Mo
yang dipanggilnya Lidah Ajaib – bahwa Capricorn akan segera datang menemui Mo
guna menagih janji. Mo meminta waktu untuk berpikir & menjanjikan jawaban
besok siang.

Pagi hari saat fajar belum sepenuhnya bersinar, Meggie terbangun &
mendapati bahwa Mo telah berkemas-kemas menyiapkan perlengkapan bepergian.
Meskipun pekerjaan Mo seringkali membawa Meggie bepergian ke tempat-tempat
jauh, mau tidak mau ia mencurigai pertemuan semalam penyebab kepergian mereka
yang mendadak ini. Namun apapun pertanyaan Meggie, tak satu jawaban jelas
keluar dari mulut Mo kecuali satu bahwa mereka akan mengunjungi Elinor – bibi
sanak ibu Meggie. Baru sekali itu Meggie mendapati Mo menyimpan suatu rahasia
terhadap dirinya, hanya sekelumit tambahan informasi yang diperoleh lewat
Staubfinger ( dengan sengaja Staubfinger menjegat Mo dan mengingatkan akan
‘hutang’ yang harus dibayarkan, membuat Mo memperbolehkannya ikut serta ) bahwa
Capricorn adalah makhluk mengerikan yang senang menyiksa makhluk lain dan jika
ia menginginkan sesuatu maka keinginan itu harus segera terpenuhi dengan cara
apapun. Dan Mo memiliki sesuatu yang diinginkan oleh Capricorn – yaitu sebuah
buku berjudul ‘Tintenherz’ yang diam-diam disembunyikan oleh Mo. Yang Meggie
ketahui hanyalah Mo tidak akan menyerahkan buku tersebut, terbukti sekarang
mereka ‘melarikan diri’ terlepas dari apapun alasan Mo.

Kediaman Elinor bagaikan kastil dengan lahan luas sekali. Namun yang membuat
Meggie terpana adalah isinya – setiap ruangan dipenuhi dengan buku-buku
beraneka macam tersusun rapi & teratur dari ujung kaki hingga ujung langit
memenuhi tembok dan sudut ruangan. Kedatangan Mo dengan alasan melakukan
pekerjaan menjilid & me-restorasi buku-buku seakan benar-benar menjadi
kenyataan. Dan Meggie mulai menikmati tinggal di tempat dimana segala macam
buku tersedia, bahkan ia mampu bertoleransi pada sikap protektif & keras
Elinor terhadap koleksi-koleksinya. Meggie-pun mulai menjalin hubungan lebih
erat dengan Staubfinger yang memiliki keahlian bermain dengan api didampingi
peliharaannya seekor musang bertanduk bernama Gwin.
Namun ketenangan itu hanyalah bayangan semu belaka, karena ada pengkhianat yang
melaporkan keberadaan mereka. Maka tak lama kemudian, di saat semua sedang
lengah, muncullah kawanan anak buah Capricorn dan mereka memiliki satu tujuan :
membawa Mo beserta buku yang disembunyikan ke hadapan Capricorn. Meggie hampir
saja ketahuan jika saja tidak ditahan oleh Elinor. Maka malam pun menjadi saksi
jeritan pilu gadis cilik yang menyaksikan ayahnya menghilang di kegelapan malam
– suara tangisan yang mampu membuat hati sang pengkhianat tergerak … walaupun
hanya sekejap.
Elinor meyakinkan Meggie agar untuk sementara mereka tinggal & melapor pada
polisi, sesuatu yang sia-sia karena cerita mereka tak dipercaya oleh polisi.
Maka tak ada yang dapat dilakukan selain beristirahat & memikirkn rencana
baru keesokkan harinya. Namun kegelisahan Meggie membuatnya tak dapat
memejamkan mata barang sejenak. Tekadnya sudah bulat untuk pergi seorang diri
mencari Mo. Setelah berkemas-kemas secara diam-diam, Meggie mendatangi kamar
Elinor guna meninggalkan surat berisi pesan kepada Elinor – namun belum sempat
surat tersebut diletakkan, matanya terbelalak melihat buku di pangkuan Elinor
yang tertidur … buku Tintenherz yang seharusnya dibawa oleh Mo kepada
Capricorn. Teriakan Meggie membangunkan Elinor yang langsung menerima caci-maki
Meggie : “Dari mana kau mendapatkannya ? Itu milik ayahku ! Kau mencurinya !” …
segala tuduhan & teriakan Meggie akhirnya mampu diredakan oleh Elinor, ia
mengatakan bahwa sebenarnya hanya ingin ‘meminjam’ buku tersebut &
membacanya tanpa diganggu, maka Elinor menukar isi bungkusan buku Tintenherz
dengan buku lain tanpa sepengetahuan Mo. Di satu sisi, buku itu untuk sementara
selamat dari tangan Capricorn, namun Meggie mencemaskan keselamatan Mo apabila
Capricorn mengetahui bahwa buku yang dibawa bukanlah Tintenherz.

Saat pagi menjelang, Staubfinger yang menghilang malam saat kejadian
penangkapan Mo, muncul menjumpai Meggie & mengatakan bahwa ia dapat
mengantarkan Meggie ketempat Capricorn karena malam tersebut ia telah mengikuti
anak buah Capricorn yang menangkap Mo. Elinor yang tak pernah mempercayai
Staubfinger bersikeras ikut guna mengawal Meggie & mengamankan buku Tintenherz.
Karena tak ada yang mau mengalah, maka akhirnya mereka bersama-sama berangkat
menuju kediaman Capricorn.
Setelah melalui perjalanan yang lumayan panjang & berliku, akhirnya tibalah
mereka di kediaman Capricorn. Rencana awal Elinor yang hendak bernegosiasi
tidak berjalan dengan baik, karena sebagaimana pernah dikatakan oleh
Staubfinger, apa yang diinginkan oleh Capricorn akan didapat dengan cara apa
pun – maka keadaan berbalik dan Meggie serta Elinor justru turut menjadi
tawanan bersama dengan Mo … dan semuanya terjadi akibat pengkhianatan
Staubfinger.
Sekian lama Meggie ingin mengetahui rahasia yang disembunyikan oleh Mo
berkaitan dengan buku Tintenherz tersebut, dan sekarang di dalam sekapan
penjara bawah tanah, Meggie serta Elinor mendengarkan kisah tentang Tintenherz
untuk pertama kalinya. Kisah dimulai saat Meggie baru saja berusia tiga tahun,
ayah & ibunya merayakan ulang tahun putri mereka dengan penuh kebahagiaan.
Telah menjadi kebiasaan bagi Mo untuk membacakan kisah dari buku-buku yang
dibawanya pulang kepada istrinya, dan pada malam itu ibu Meggie memilih buku
Tintenherz untuk dibacakan oleh Mo. Sesaat mereka seakan terbenam dalam kisah
buku tersebut, hingga saat Mo mulai membaca bab tujuh … terjadi sesuatu yang
tak dapat dijelaskan. Secara tiba-tiba dalam ruangan tersebut muncul Capricorn,
Basta dan Staubfinger – mereka muncul dari dalam kisah buku Tintenherz dan
sebagai gantinya ibu Meggie beserta dua ekor kucing yang sedang dipangkunya
lenyap tanpa jejak, masuk ke dalam kisah Tintenherz. Berbagai cara dilakukan
oleh Mo termasuk membaca terus Tintenherz berulang-ulang hingga suaranya serak,
namun tetap tidak dapat mengembalikan istrinya, justru bermunculan
makhluk-makhluk aneh disertai menghilangnya beberapa orang yang kebetulan berada
di sekeliling Mo.

Ternyata kemampuan Mo untuk mengeluarkan sesuatu dari apa yang dibacanya sudah
diketahui olehnya sejak kecil, namun selama itu ia hanya mampu membawa sesuatu
yang tak bernyawa keluar dari buku – baru pada malam naas dimana ia mampu mengeluarkan
makhluk hidup, justru makhluk yang jahat yang berhasil ia keluarkan &
melenyapkan makhluk terbaik yang pernah dimiliki : istrinya tercinta & ibu
Meggie. Dan sejak itu Mo tidak pernah lagi membacakan buku bagi siapa pun,
termasuk pada putrinya Meggie. Namun hal tersebut akan segera berubah karena
tujuan Capricorn menangkap Mo tidak lain adalah agar Mo mengeluarkan apa pun
yang diinginkan oleh Capricorn dari dalam kisah-kisah buku … permasalahannya,
mengingat sifat Capricorn yang tak memiliki belas kasih, apa yang akan
dikeluarkan dari kisah Tintenherz yang penuh dengan peri-peri, kobold, troll
serta makhluk-makhluk dari kegelapan ??
Kesan :
Wah … ini benar-benar kisah yang menjadi Impian-ku : punya
kemampuan membaca yang dapat mengeluarkan apa pun dari dalam kisah-kisah buku.
Klo punya kemampuan seperti itu buku pertama yang akan ku-baca : Charlie &
The Chocolate Factory, langsung buka halaman dimana ada air terjun coklat … he
.. he .. asyik banget, atau coba ngeluarin sapu terbang dari buku Harry Potter,
dan kepingin coba keluarkan sesuatu dari Eclipse-nya Stephenie Meyer ( hem …
pilih Edward atau Jacob ya … but Alice juga oke … enggak ding, ngeri juga ada
vampire yang keluar dari buku .. ha .. ha ).
Well, terlepas dari Impian-Gila diatas, buku ini bukan sekedar kisah fantasi
namun juga sarat dengan pesan moral bahwa apapun yang telah dilakukan sengaja
atau pun tidak disengaja – semua ada konsekuensinya, dan seringkali terjadi
seseorang hanya mau menikmati kesenangan sesaat namun tidak mau memikirkan
& menjalani prosesnya. Seperti saat Meggie mendapati bahwa ia memiliki
kemampuan sama dengan Mo, awalnya ia merasa senang dapat mengeluarkan sesuatu
namun penyesalan juga menyertai saat ia sadar bahwa ada yang harus dibayar atas
tindakan tersebut.
Buku ini baru merupakan bagian pertama dari Trilogi Inkworld – dan pada akhir
kisah buku pertama ini pun timbul berbagai pertanyaan : bagaimana nasib
Fenoglio sang penulis Tintenherz yang lenyap dalam kisah yang ditulisnya ?
Apakah Teresa akan memperoleh kembali suaranya ? Bagaimana pengembaraan
Staubfinger yang diikuti oleh Farid ? Dan ada suatu hal yang menyusupdi
benak-ku dalam membaca kisah ini – jika kemampuan Mo dan Meggie saat ini adalah
mengeluarkan kisah-kisah dari dalam buku, apakah kemampuan mereka akan
berkembang untuk melakukan hal sebaliknya, yakni memasuki suatu kisah &
berperan di dalamnya kemudian dapat keluar lagi, seperti Lyra dan Will yang
bisa keluar-masuk dunia yang berbeda ( His Dark Materials #2 - The Subtle Knife
).
Yah … jawabannya hanya bisa menunggu kelanjutan kisah ini ( masih lama tidak ya
?? Kapan nich mbak Dini ? )
Tentang Penulis :

Cornelia Funke adalah salah satu penulis buku anak &
remaja paling terkenal di Jerman. Ia mulai menulis setelah memperoleh gelar
sarjana keguruan sekaligus menyelesaikan pendidikan di bidang grafis. Ia
menulis teks untuk buku bergambar, buku yang khusus untuk dibacakan, buku untuk
para pembaca usia dini, dan untuk mereka yang terbiasa membaca cepat serta
banyak. Sebagian besar buku-bukunya dihiasi ilustrasi buatannya sendiri.
Buku-buku Cornelia Funke banyak mendapat penghargaan dan menjadi karya laris
internasional, misalnya Her der Diebe ( Pangeran Pencuri ) yang telah
diterjemahan ke lebih dari dua puluh bahasa dan juga telah difilmkan.
Buku
Tintenherz ini pun telah diangkat ke layar lebar dengan judul Inkheart dan
dibintangi oleh Brendan Fraser sebagai Mo, Eliza Bennet sebagai Meggie, serta Helen Mirren sebagai Elinor …
sedikit ‘spoiler’ menurutku mereka bermain sangat bagus, terutama Helen Mirren
sangat cocok jadi Elinor yang cerewet dan hanya memperdulikan tentang buku
sepanjang hidupnya – namun akhirnya tergerak hatinya untuk menyelamatkan
‘kerabat’-nya yang tersisa.
Bahkan tokoh Staubfinger sangat bagus dimainkan
oleh Paul Bettany ( yang main jadi pembunuh di Da Vinci Code ), hanya tokoh
Capricorn dan Basta saja yang kurang pas, Capricorn-nya jadi berkesan konyol
bukannya misterius-dingin-menakutkan ( dimainkan oleh Andy Serkis yang jadi
Gollum di LOTR ). So far film-nya cukup menghibur tanpa visual-effect yang
heboh.
Sekarang Cornelia Funke tinggal di Los Angeles, AS bersama kedua anaknya dan
anjing mereka, Luna.
Best Regards,
* Hobby Buku *